Minggu, 06 Januari 2019

Camera Movement

CAMERA MOVEMENT :


1. PANNING

Pergerakan kamera menoleh dari kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri.
  • Pan Left          : Pergerakan kamera menoleh kekiri
  • Pan Right        : Pergerakan kamera menoleh ke kanan
panning

2. TILTING

Pergerakan kamera secara vertikal dari atas ke bawah atau dari atas ke bawah, dengan atau tanpa tripod
  • Tilt Up : Pergerakan ke atas
  • Tilt Down : Pergerakan ke bawah
Tilting

3. TRACKING

Pergerakan kamera mendekati atau menjauhi objek ( diam) dengan atau tanpa tripod/dolly.
  • Track in           : Mendekati objek
  • Track out         : Menjauhi objek
Tracking

4. CRAB/DOLLY

Pergerakan kamera dimana kamera digerakkan ke kiri atau ke kanan dengan atau tanpa tripod. Pergerakan kamera yang dilakukan dengan mengikuti objek bergerak, kamera ikut bergerak searah dengan objek.
  • Crab Left        : Kamera bergerak ke kiri
  • Crab Right      : Kamera bergerak ke kanan

5.ZOOMING

Dalam ZOOMING ini yang bergerak bukannya kamera tetapi lensa kamera yang bergerak kedepan atau ke belakang  mendekati/menjauhi objek sementara kamera tidak bergerak.
  • Zoom In          : Lensa bergerak kehadapan (gambar lebih dekat)
  • Zoom Out       : Lensa bergerak kebelakang (gambar lebih jauh)

22568-medium
Read More

Kamis, 03 Januari 2019

Teknik Pengambilan Gambar Pada Video

Pengertian Shooting

Shooting adalah sebuah proses melakukan pengambilan suatu gambar dalam pembuatan suatu film atau vidio. Dan termasuk juga dalam proses pemeroduksian yang harus membutuhkan Persiapan yang matang,skill,dan juga pengetahuan dalam melakukan shoting. Dan mengetahui teknik shot itu sendiri dalam suatu vidio adalah Salah satunya.
Pengetahuan mengenai teknik pengambilan gambar ini untuk menentukan bagaimana shot itu akan dibuat, serta kesan yang timbul didalamnya. Untuk membedakan antara satu shot dengan shot yang lainnya, teknik pengambilan gambar ini dibedakan menjadi dua kategori yaitu dilihat dari Sudut Pengambilan Gambar, dan Ukuran Gambar yang akan dijelaskan pada penjelasan dibawah.

A.             Sudut Pengambilan Gambar (Camera Angle)

1. Frog Eye Teknik pengambilan gambar dengan ketinggian kamera sejajar dengan dasar (alas) kedudukan obyek atau dengan ketinggian yang lebih rendah dari dasar (alas) kedudukan obyek. Dengan teknik ini dihasilkan satu pemandangan objek yang sangat besar.

2. Low Angle Sudut pengambilan dari arah bawah obyek sehingga kesan objek jadi membesar.

3. Eye Level Sudut pengambilan gambar sejajar dengan obyek. Hasilnya memperlihatkan tangkapan pandangan mata seseorang yang berdiri atau pandangan mata seseorang yang mempunyai ketinggian tubuh tepat tingginya sama dengan obyek.

4. High Angle Sudut pengambilan dari atas obyek sehingga kesan obyek jadi mengecil. Selain itu teknik pengambilan gambar ini mempunyai kesan dramatis, yakni kesan kerdil.

5. Bird Eye Teknik pengambilan gambar yang dilakukan juru kamera dengan ketinggian kamera di atas ketinggian obyek yang direkam. Hasil perekaman teknik ini memperlihatkan lingkungan yang demikian luas dengan benda-benda lain yang tampak di bawah demikian kecil.

6. Slanted Jenis shot ini merupakan perekaman dengan sudut tidak frontal dari depan atau frontal dari samping obyek, melainkan dari sudut 45‘ dari objek, sehingga obyek yang lain ikut masuk kedalam bingkai rekam.

7. Over Shoulder Shot ini merupakan versi close-up dari slanted shot sehingga seakan-akan objek lain di-shot dari bahu obyek utama.

B.      Ukuran Gambar

Setelah dilihat dari aspek Sudut Pengambilan Gambar, berikutnya adalah ukuran gambar. Ukuran gambar ini tentunya dikaitkan dengan tujuan pengambilan gambar, sekaligus menunjukkan tingkat emosi, situasi, dan kondisi dari objek gambar. Beberapa jenis teknik pengambilan gambar berdasarkan ukuran gambar antara lain:
  1. Extreme Close Up (ECU) Pengambilan gambar sangat dekat sekali, sampai pori-pori kulit pun terlihat. Memperlihatkan detail suatu obyek secara jelas.
  2. Big Close Up (BCU) Pengambilan gambar dari atas kepala hingga dagu obyek. Menonjolkan obyek untuk menimbulkan ekspresi tertentu.
  3. Close Up (CU) Pengambilan gambar dari tepat atas kepala sampai bawah leher. Untuk memberi gambaran obyek secara jelas.
  4. Medium Close Up (MCU) Ukuran gambar sebatas kepala hingga dada. Untuk menegaskan profile seseorang.
  5. Medium Shot (MS) Ukuran gambar sebatas dri kepala hingga pinggang. Bertujuan untuk memperlihatkan sosok seseorang.
  6. Full Shot (FS) Pengambilan gambar penuh dari atas kepala hingga kaki. Memperlihatkan obyek secara keseluruhan.
  7. Long Shot (LS) Pengambilan gambar melebihi full shot. Menunjukan obyek dengan latar belakangnya.
  8. One Shot (1S) Pengambilan gambar satu obyek. Memperlihatkan seseorang dalam in frame.
  9. Two Shot (2S) Pengambilan gambar dua obyek. Biasanya memperlihatkan adegan dua orang sedang bercakap.
  10. Group Shot (GS) Pengambilan gambar sekelompok orang. Misalnya ada adegan pasukan sedang berbaris atau lainnya.


Read More

Rabu, 02 Januari 2019

Memahami Aperture, ISO dan Sutter Speed

Aperture, ISO dan Shutter Speed


Pada dasarnya, kebanyakan dari kita suka sekali dengan yang namanya memotret. Terbukti dari sekian banyak unggahan foto pada media sosial setiap harinya. Apa lagi dengan adanya kamera smartphone, segala aktivitas bisa dengan cepat didokumentasikan menjadi gambar digital.

Namun sayangnya banyak yang hanya asal-asalan dalam mengambil foto, sehingga foto yang dihasilkan pun biasa-biasa aja meskipun telah menggunakan kamera yang bagus dan mahal harganya. Yuk, kita belajar fotografi, belajar memahami Aperture, Shutter Speed, dan ISO, supaya tahu cara mengatur dan menggunakan kamera dengan baik dan benar. Minimal agar kita lebih kreatif, dan agar tidak selalu menggunakan mode Auto.

 Aperture

Aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil foto. Jika kita melihat lensa kamera, kita dapat melihat “lubang” atau pembukaan dimana cahaya masuk melaluinya. Ketika kita mengatur aperture pada kamera, kita akan menentukan seberapa besar lubang ini terbuka. Semakin besar lubang terbuka, maka semakin banyak pula cahaya yang akan masuk kedalam sensor kamera, begitu pun sebaliknya.

Aperture atau bukaan dinyatakan dalam satuan f-stop. Sebuah angka yang lebih rendah, seperti f/1.8, menunjukkan bukaan yang lebih lebar, dan f/22, menunjukkan aperture sempit. Semakin kecil angka f-stop berarti semakin besar lubang ini terbuka (dan semakin banyak volume cahaya yang masuk) serta sebaliknya, semakin besar angka f-stop semakin kecil pula lubang terbuka.

ISO


ISO adalah ukuran tingkat sensitivitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO, maka semakin sensitif sensor terhadap cahaya. Sebelum era digital dulu, ketika kita membeli negatif film untuk kamera biasa, kita akan mendapatkan pilihan ISO 100 atau 200 untuk di luar ruangan dan ISO 400 atau 800 untuk dalam ruangan.  Dan pada era kamera digital seperti sekarang ini, ketentuan itu masih tetap berlaku.

Keuntungan dari ISO rendah adalah bahwa cahaya yang mewakili objek foto masuk ke sensor kamera lebih akurat. Jadi foto yang dihasilkan lebih detil. Sedangkan ISO tinggi sangat berguna untuk mengambil foto lebih detil pada keadaan minim cahaya tanpa mengurangi shutter speed atau pelebaran aperture. Namun foto menjadi terlalu terang dan kurang realistis.

Shutter Speed


Ketika kita menekan tombol shutter pada kamera memotret, jendela aperture mengambil sejumlah waktu untuk menutup. Lamanya waktu inilah yang dikenal sebagai shutter speed atau kecepatan rana. Lamanya waktu yang diperlukan adalah sepersekian detik.

Jika kita ingin menangkap benda yang bergerak cepat, maka kita memerlukan waktu paling tidak 1/300 detik. Kita dapat menggunakan shutter speed tercepat, akan tetapi banyak situasi yang mengharuskan kita untuk menggunakan shutter speed yang lebih lambat.

Seperti pada situasi berikut ini: Kita ingin motion blur untuk tujuan artistik, seperti aliran sungai yang blur, sambil menjaga segala sesuatu yang di sekitarnya terlihat tajam dan tidak blur. Untuk mencapai hal ini, kita harus menggunakan shutter speed yang lambat, misalnya 1/30 detik, dan menggunakan aperture yang sempit untuk mencegah exposure yang berlebihan pada foto tersebut.





Read More

Membuat Vidiomu lebih stabil dengan Gimbal

Handheld Video Stabilizer

Apakah itu stabilizer? dan apa fungsinya?

Saya yakin Anda pernah ‘kan menonton sebuah video amatir teror bom Jakarta di Sarinah beberapa saat lalu? Bagaimana hasilnya? Melihat video amatir tersebut, saya yakin kepala Anda akan serasa pening atau bahkan tidak nyaman menontonnya (terlepas dari konten update-nya yang saat itu begitu ingin kita lihat). Benar, banyak gambar yang bergoyang-goyang.

Terlepas dari video tersebut diambil dari keadaan yang mendesak dan darurat, tapi intinya, hasil videonya tidak asyik untuk dinikmati bukan?

Itu karena, saat pengambilan gambar kamera sangat rentan terhadap gerakkan. Coba buktikan sendiri dengan mencoba merekam video dengan berjalan menyusuri obyek, atau bahkan dengan berlari. Bisa dipastikan, hasilnya juga pasti naik turun mengikuti gerak tubuh Anda. Itulah sebabnya, dibutuhkan sebuah handheld video stabilizer untuk mengatasi goyangan tersebut.

Sebuah Handheld video stabilizer sebenarnya adalah mount untuk kamera video yang dikontrol oleh seorang juru kamera (cameraman). Dengan adanya video stabilizer ini, akan memungkinkan kamera untuk bergerak bebas tanpa menghasilkan gambar yang shaking.



Sebenarnya, cara kerja alat ini hanya dengan meredam goyangan saat pengambilan gambar. Jika boleh diasumsikan, alat ini mekanismenya menyerupai sendi peluru yang ada pada hubungan antar tulang gelang bahu dan tulang lengan atas serta antara gelang panggul dan tulang paha manusia. Sehingga ketika alat ini kita gerakkan kemanapun, kamera akan tetap stabil.

Read More

Review Kamera Sony A7s

Ini kamera yang cocok untuk membuat film pendek.

Sony A7s

Kamera full-frame mirrorless baru, A7S, adalah kamera yang terlihat dan memiliki fungsi persis seperti model A7 sebelumnya, tetapi dengan beberapa perbedaan yang sangat spesifik dan menarik, tentu saja dengan fitur yang sangat cocok untuk merekam video. Kamera full-frame mirrorless dengan harga sekitar $ 2500 ini memiliki sensor 12 megapixel khusus yang dirancang untuk meningkatkan rekaman video dan kinerja cahaya rendah. Selain sensor dan beberapa pilihan menu menambahkan, kamera ini sangat identik dengan sei sebelumnya, yaitu A7 dan A7r, dalam hal penampilan dan penggunaan.

Kamera Sony Alpha A7S dilengkapi dengan fitur full-frame CMOS 12.2MP dan sensor berjenis Exmor, serta  prosesor images BIONZ X untuk mengaktifkan video dan kualitas gambar dengan rentang dinamis yang luas, kebisingan rendah, dan sensitivitas diperpanjang untuk ISO 409600. Pada tingkat sensor , sensor full-frame memiliki desain yang cukup unik yaitu dengan on-chip lensa gapless, yang menggabungkan lensa kecil antar piksel dalam rangka meningkatkan efisiensi pengumpulan cahaya dan mempromosikan kualitas gambar yang lebih besar dari tempat sensor. Kombinasi sensor dan prosesor juga tersedia dengan kecepatan maksimal pada seluruh sistem kamera, termasuk tingkat atas pengambilan gambar terus menerus dari 5 fps, dukungan untuk merekam video 4K, dan 25 titik kontras-deteksi sistem AF cepat dengan kepekaan terhadap -4 EV.



A7S juga cukup mahir dalam hal merekam video. Hal ini dapat dilihat dari output yang terkompresi sistem 4: 2: 2 UHD 4K video ke perekam opsional eksternal melalui HDMI, serta merekam 1080p full HD video dalam kualitas tinggi dengan format XAVC S pada 50 Mbps di beberapa frame rate. Disamping itu, kemampuan merekam video mendukung untuk merekam S-log2 gamma, yang membantu untuk memperluas jangkauan dinamis yang efektif selama perekaman, serta pilihan profil picture, kode waktu, dan tampilan penanda. Suara dapat direkam dalam format yang AAC / Linear PCM melalui mikrofon stereo internal dengan built-in jack headphone untuk monitoring on-board, atau melalui mikrofon eksternal.

Kemampuan pencitraan A7S, baik 3,0 “921.6k-dot kemiringan monitor LCD dan 2.360.000-dot OLED viewfinder elektronik, tersedia untuk membantu kita dalam pemantauan gambar dan review. Built-in konektivitas Wi-Fi, dengan dukungan untuk NFC, juga tersedia untuk saling berbagi file dari kamera serta kontrol kamera jarak jauh dari perangkat mobile yang terhubung.



Demikian tadi review Kamera Sony A7s. Semoga ulasan di atas bermanfaat ya. 

Read More

Peralatan Untuk Syuting Video

Ini Peralatan yang Penting dalam pembuatan video

Perkembangan teknologi kamera telah mengubah orang untuk lebih kreatif dalam menghasilkan film pendek atau film indie. Dengan berbekal kamera DSLR, seseorang yang tidak memiliki latar belakang cinematography pun kini leluasa untuk membuat karya film yang layak tonton. Kamera DSLR juga bukan lagi dipandang sebelah mata untuk menghasilkan karya film komersil.

Anda pun bisa melakukannya dengan menggunakan peranti kamera foto atau ponsel untuk membuat karya film atau video documenter sendiri. Tema kehidupan sosial atau human interestcukup banyak bisa dijumpai di sekitar lingkungan Anda. Berikut kami sajikan sejumlah rekomendasi peranti yang bisa Anda gunakan untuk membuat sebuah film atau video dokumenter.

1. Kamera

Kamera menjadi alat utama dalam pembuatan film dokumenter. Saat ini, sebagian besar kamera foto bisa menghasilkan gambar beresolusi tinggi dan memiliki kemampuan merekam video berkualitas HD. Itulah sebabnya banyak yang memanfaatkan kamera DSLR untuk untuk mengurangi bujet produksi sebuah film. Namun ketika akan membuat film atau video documenter dengan menggunakan kamera DSLR pastikan kamera tersebut telah memiliki fitur Image Stabilization.

Adanya fitur Image Stabilizer akan mengurangi gambar yang bergoyang atau blur. Beberapa produsen kamera memiliki istilah masing-masing untuk penyebutan fitur ini. Canon dan Sony menggunakan istilah Image Stabilization (IS) sementara Nikon menggunakan istilah Vibration Reduction).

2. Tripod

Seringkali para videografer pemula tidak membawa peranti tripod saat merekam gambar. Hasilnya pasti bisa ditebak, kualitas gambar akan bergoyang. Jadi yang Anda perlukan saat merekam video documenter adalah tripod yang memiliki video head sekaligus sehingga memudahkan saat akan merekam gambar dengan cepat dan stabil. Anda pilih tripod khusus untuk video, bukan yang untuk fotografi.

Apabila Anda menggunakan smartphone, maka tepat untuk memilih GorillaPod plus peranti aksesori Glidecam atau Steadicam. Ukuran ponsel yang kecil dan segenggam tangan dan bobotnya yang ringan akan memunculkan masalah saat merekam video. Tak peduli seberapa stabil Anda memegangnya, tetap saja akan muncul goyangan saat merekam. Nah Anda memerlukan Steadicam untuk menstabilkannya.

3. Slider Dolly

Cara simpel untuk mendapatkan gerakan layaknya kamera sinematik adalah dengan peranti bernama slider dolly. Slider ini akan membantu memperoleh gambar yang seolah-olah diambil dari sudut pandang lain. Rekomendasi produk yang bisa Anda pilih adalah Konova K5.

4. Rig



Pada dasarnya DSLR adalah kamera foto sehingga faktor ergonomisnya hanya dirancang untuk kebutuhan memotret. Apabila akan mentransformasi DSLR menjadi kamera video maka perlu tambahan aksesori berupa rig. Namun sayangnya harga rig cenderung lebih mahal daripada harga bodi kamera sendiri.

Apabila Anda ingin merekam video dengan DSLR tanpa membawa tripod atau tidak memungkinkan untuk menggunakan tripod, maka pilih shoulder rig atau monopod. Anda juga bisa menambahkan tilt head pada monopod agar kamera bisa bergerak naik-turun.

5. Lensa

Sebaiknya ketika akan membeli lensa, pilih yang keluaran pabrikan atau sama mereknya dengan kamera Anda. Misalnya Anda menggunakan kamera Nikon, maka pilih lensa Nikkor.

Rekomendasi lensa yang dapat dipilih adalah 28 milimeter f/1.8, 50 milimeter f/1.4 dan 85 milimeter f/1.8. Anda tinggal menyesuaikan dengan kamera yang digunakan.

6. Lighting

Pencahayaan sangat penting untuk menghasilkan gambar video yang tajam. Biasanya lighting yang digunakan di videografi adalah berjenis HMI atau Hydrargyrum Medium-arc Iodide. Namun sayangnya selain mahal juga tidak praktis, sehingga kini disiasati dengan LED.
Ada beberapa jenis lighting LED yang biasa digunakan untuk kamera video, misalnya lampu LED Neewer CN-216 (angka 216 berarti jumlah lampunya), LED Neewer CN-160 atau LED Neewer CN-126 yang harganya lebih murah. Biasanya untuk membuat film dokumenter, setidaknya diperlukan 2 buah lampu LED yang ukurannya sama. Namun Anda perlu tambahan dual mount bracket untuk memasang kedua lampu tersebut secara bersamaan.

7. Audio

Audio adalah aspek penting juga yang perlu diperhatikan saat membuat video dokumenter. Anda juga memerlukan alat perekam suara eksternal. Alat ini sangat vital karena Anda bisa mengambil trek suara lebih jelas daripada hanya mengandalkan microphone kamera yang kualitasnya rendah.
Salah satu sound recorder yang mumpuni dan direkomendasi para videographer adalah Zoom H4N. Perekam suara ini memiliki 4 channel audio recorder, 2 built in Stereo Condensor + 2 external input combo dengan phantom power. Bahkan Zoom H4N hingga saat ini masih menjadi standar sound equipment bagi industri film.
8. Laptop dan Software Editing

Untuk mengedit hasil rekaman video, maka Anda mermelukan komputer yang mumpuni. Anda bisa menggunakan computer desktop atau laptop. Pastikan komputer Anda memiliki spesifikasi prosesor minimal Intel Core i5 dan kapasitas memori (RAM) di atas 8 GB, serta kualitas VGA super yang mampu melakukan proses rendering lancar.
Bicara software editing, Anda bisa memanfaatkan Final Cut Pro, Adobe Premiere, Sony Vegas Pro, Pinnacle Studio, dan After Effect. Ditambah software penyuntingan suara seperti Sound Forge dan Garage Band, maka hasil video dokumenter bertema human interest buatan Anda pasti enak ditonton.


Read More

5 Tips Cara Menjadi Videographer


Bergantung pada di mana Anda berada dalam perjalanan Anda untuk menjadi seorang videografer profesional, Anda dapat memulai dengan salah satu dari tips ini dan hanya beralih ke gairah Anda yang membara untuk videografi untuk membimbing Anda menuju kesuksesan.


1. Mendapatkan kamera vidio yang bagus


Sebagai pemula, Anda mungkin menemukan DSLR atau Mirror Les lebih mudah digunakan daripada camcorder untuk pelatihan videografi Anda. Setelah menghadiri beberapa lokakarya, Anda mungkin akan mendapatkan ide bagus tentang jenis kamera bioskop yang Anda sukai.

Setelah Anda membuat keputusan tentang jenis kamera yang ingin Anda gunakan, Anda dapat mulai memilih dari beragam merek dan model kamera yang memenuhi kebutuhan Anda dalam keserbagunaan dan perekaman video ultra-resolusi tinggi . Apa pun yang Anda pilih, sangat penting bagi Anda untuk belajar cara menggunakan — dan menggunakannya dengan baik.

Anda akan belajar bahwa kamera hanyalah salah satu dari banyak hal yang harus Anda pelajari cara mengoperasikannya. Akan ada slider, derek, rig kamera, dan peralatan teknis lainnya yang Anda harus membiasakan diri dengan, tetapi Anda harus sudah menguasai kamera untuk memanfaatkan sepenuhnya dari setiap set peralatan rekaman video.

2. Dapatkan gelar sarjana terkait
Ketika Anda mulai melamar pekerjaan sebagai videografer, agensi dan perusahaan pembuat film biasanya ingin memastikan pendidikan Anda dengan gelar sarjana yang terkait dengan film atau penyiaran. Untungnya, ada beberapa gelar sarjana yang akan memberi Anda pengalaman berharga dan keterampilan teknis yang diperlukan di bidang ini, seperti yang berikut:

a. Komunikasi
b. Sinematografi
c. Penyiaran
d. Penyuntingan video
e. Teori film
f. Penulisan naskah

3.Temukan seorang mentor

Cari mentor (sesama videografer atau sinematografer profesional) dan kembangkan persahabatan. Selain mendapatkan pengetahuan berharga dari seseorang yang saat ini berkecimpung dalam industri ini, orang ini dapat menjadi sumber inspirasi. Bahkan jika Anda sudah menemukan diri Anda seorang mentor sejak dini, memiliki lebih dari satu bisa sangat bermanfaat bagi karier Anda.

Jika memungkinkan, bantu mentor Anda dalam beberapa proyek mereka. Amati bagaimana mereka bekerja, bagaimana mereka merencanakan dan mengeksekusi tembakan mereka, dan bagaimana mereka mengatasi masalah yang muncul. Magang membuka kemungkinan bekerja sebagai penembak kedua atau mendapatkan rujukan untuk peluang kerja di kemudian hari.

4. Buat film anda sendiri

Menghabiskan waktu pada set film nyata dengan semua orang kreatif ini akan sangat menginspirasi Anda untuk membuat film atau film pendek Anda sendiri untuk melatih tangan Anda dalam mengeksekusi gerakan kamera tertentu dan teknik pembuatan film . Dengan segala cara, biarkan diri Anda terdorong untuk bereksperimen dan menyadari gaya kreatif Anda sendiri. Hubungi teman Anda dan undang mereka untuk memulai proyek film yang bisa Anda gunakan untuk latihan dan untuk membangun portofolio Anda.

Biarkan sutradara dan / atau sinematografer melakukan tugasnya mendikte gaya pemotretan — hanya fokus untuk mengeksekusinya dengan sempurna.

5. Pasar dirimu sendiri

Setelah Anda mengumpulkan koleksi film dan klip pendek, Anda siap untuk mulai mengolah diri Anda sebagai sebuah merek. Buat situs web atau portofolio online tempat Anda dapat memamerkan karya terbaik Anda dan gaya pembuatan film kreatif Anda. Inilah yang akan membantu Anda menonjol dari yang lain dan menetapkan identitas pembuatan film kreatif Anda kepada sutradara.

Perluas wawasan Anda dan manfaatkan akses hari ini ke media massa dengan membagikan situs web atau konten Anda di platform media sosial seperti Facebook dan Instagram. Dengan cara ini, Anda juga meningkatkan pengikut Anda dan membiarkan orang lain membantu mempromosikan pekerjaan Anda melalui "Suka" dan "Berbagi." Jangan lupa untuk meninggalkan detail kontak Anda saat ini di halaman Anda sehingga perusahaan dan klien yang tertarik akan tahu ke mana harus menghubungi Anda!
Read More